SELERA ASAL #BROMO #NASI ARON, KELANDINGAN, KULUB DAUN RANTI, IKAN ASIN SISIK, SAMBAL TERASI TOMAT

Posted: August 25, 2011 in SELERA ASAL

Langit nampak cerah. Matahari belum lagi tinggi. Namun aktivitas masyarakat desa sudah terasa. Dibalut dinginnya angin yang senantiasa menyapukan kesejukan. Saya masih berada di Desa Wonotoro.

Deretan pemandangan ladang dengan segala aneka rupa tanaman begitu menambah pesona dari keindahan alam desa. Meskipun berlapis debu tebal, namun tak mampu mengurangi kesuburan tanah Bromo. Ada bermacam – macam tumbuhan yang menjadi hasil bumi utama Tengger. Bawang pre (daun bawang), kentang, kubis, jagung putih, dan masih banyak lagi jenis sayur – sayuran yang ada.

Jagung putih. Dahulu bahan makanan ini memang menjadi makanan pokok bagi masyarakat Tengger. Dengan tekstur kecil dan padat. Rasa jagung putih ini lebih manis. Para leluhur mengkonsumsi jagung sebagai makanan pokok, selain dijadikan bahan dasar untuk membuat penganan kecil. Meskipun sekarang masyarakat Tengger sudah mengkonsumsi nasi dari beras. Masa panen jagung putih yang cukup lama yaitu sekitar 7 – 8 bulan, membuat masyarakat sedikit kesulitan untuk mengadakan jagung putih sebagai bahan pokok dalam kehidupan sehari – hari.

Menurut Pak Artomo dan beberapa informasi yang saya dapat, Nasi Aron merupakan makanan yang masih dikonsumsi hingga saat ini. Untuk dapat membuat nasi aron, ada beberapa tahapan yang harus dilewati sebelum akhirnya Jagung Putih tersebut dapat diaron menjadi nasi.

Pertama – tama, jagung putih yang sudah dipipil haruslah dikum-kum atau direndam setidaknya selama 14 hari. Semakin lama proses perendaman, maka hasilnya akan semakin baik. Karena biji jagung akan semakin empuk. Namun jangan lupa, untuk mengganti air rendaman secara berkala. Karena kalau tidak, maka akan keluar aroma kurang sedap dari rendaman jagung tersebut.

Di kediaman Pak Artomo, saya ikut serta membantu Ibu menyiapkan jagung putih agar dapat dikonsumsi menjadi makanan pokok pengganti nasi. Selanjutnya, jagung putih yang sudah ditiriskan, ditumbuk. Masyarakat Tengger menggunakan alat penumbuk yang terbuat ari batu besar, lengkap dengan alunya. Alu ini memang cukup berat. Dulu, untuk menumbuk dalam jumlah banyak, satu buah batu biasa dihaluskan secara beramai – ramai.

Setelah jagung ditumbuk halus, selanjutnya jagung diayak. Barulah setelah halus, jagung siap diaron di dalam kukusan. Ada tips menarik untuk dapat mengaron jagung putih. Tambahkan beras di bagian alas kukusan. Hal ini bertujuan agar tekstur jagung dapat merekat dan padat.

Hari ini, Bu Artomo berencana untuk membuat hidangan istimewa untuk saya. Selain nasi aron, Bu Artomo akan memasak Kulub Daun Ranti, Ikan Asin Sisik, lalapan kelandingan dan tentunya sambal terasi tomat.

Semuanya memang masih terdengar sedikit asing di telinga saya. Hal itulah yang membuat saya sangat antusias menyiapkan makanan istimewa ini. Sambil menunggu nasi aron matang, saya dan Pak Artomo berangkat ke perkebunan dekat rumah untuk memetik daun ranti dan kelandingan.

Daun ranti adalah salah satu jenis sayur lalapan yang tumbuh di tanah Tengger. Dahulu pohon Ranti begitu mudah dijumpai. Namun di masa pasca erupsi, pohon berbatang rendah ini tidak sebanyak dulu. Beruntungnya saya, karena menjumpai pohon ranti di perkebunan. Setelah mengambil pucuk daun ranti secukupnya, kami melanjutkan pencarian. Kali ini kami akan memetik kelandingan.

Hampir sama dengan daun ranti, kini pohon kelandingan tidak sebanyak dulu. Terlebih lagi, kelandingan merupakan tanaman lembab. Di musim kering seperti saat ini, sedikit sulit untuk menemukan pohon kelandingan. Kelandingan adalah jenis lalapan, masih berasal dari fam petai. Berbentuk kecil, mirip petai petai cina. Mungkin kalau boleh sedikit disamakan, kelandingan ini 80% hampir sama dengan lamtoro yang sering dijumpai.

Ternyata kelandingan ini berasal dari pohon yang cukup besar. Saya menawarkan diri untuk memanjat pohon kelandingan. Meskipun diawali dengan sedikit gemetar, karena tanah di sekitar pohon kelandingan ini cukup berundak – undak, sehingga cukup rentan tergelincir.

Setelah selesai memetik daun ranti dan kelandingan, kami kembali ke rumah. Rupanya nasi aron sudah hampir matang. Untuk teman makan nasi aron, daun ranti tadi akan di-kulub. Kulub merupakan cara memasak daun – daunan yang akan dilalap khas Tengger. Cara meng-kulub sangatlah mudah. Daun-daunan cukup direbus hingga setengah matang, agar tidak hilang vitaminnya. Dan kulub daun ranti pun siap dihidangkan.

Selain kulub daun ranti, Ibu Artomo juga telah menyiapkan ikan asin sisik. Salah satu jenis ikan asin kegemaran masyarakat Tengger. Seperti ikan asin pada umumnya, ikan ini hanya digoreng dan dinikmati panas – panas. Dan penyempurna dari menu – menu tadi, tentu saja sambal terasi tomat. Menggunakan cabe jawa atau cabe rawit merah mentah dan terasi juga tomat.

Akhirnya semua menu tersebut siap disantap. Semuanya masih dalam keadaan panas dan mengepul. Makanan panas dan pedas konon memang menjadi makanan kegemaran Tengger, terlebih di udara dingin seperti ini.

Nasi aron yang rasanya padat dan nikmat, begitu lezat dipadu dengan kulub daun ranti, ikan asin sisik serta sambal terasi tomat. Tak lupa kelandingan, berbentuk kecil namun “harum” yang dimakan mentah. Semuanya seolah mampu menghipnotis saya dalam kesempurnaan kelezatan yang tiada tara.

Advertisements
Comments
  1. garayy says:

    hasem dadi kangen sego jagung aku :(((

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s