SELERA ASAL #BROMO #UPACARA YADNYA KASADA

Posted: August 23, 2011 in SELERA ASAL

Bromo. Salah satu daerah tujuan wisata di Jawa Timur dengan letak geografis 7°51’ – 8°11’ LS, 112°47’ – 113°10’ BT ini memang mempunyai daya tarik sendiri dalam merebut hati orang yang berkunjung kesana. Termasuk saya. Mengunjungi Bromo merupakan pengalaman baru dalam hidup saya. Segala persiapan saya lakukan terutama “seragam khusus daerah dingin”, seperti jaket, mantel, sarung tangan. Dengan temperatur udara antara 3° – 20° C, tak salah Bromo semakin memikat para “wisatawan lokal” (lagi-lagi) seperti saya. Karena, kapan lagi saya bisa menggunakan pakaian bertumpuk plus syal sampai sarung tangan kalau di Jakarta.

Saat kami menginjakkan kaki di Bromo, masyarakat Tengger sedang menyiapakan Upacara Yadnya Kasada. Yang jatuh pada tanggal 14-15 purnama di bulan Agustus. Kasada sendiri artinya adalah bulan kedua dalam penanggalan Tengger.

Ada beberapa tahapan ritual yang dilakukan oleh masyarakat Tengger dalam menghadapi Kasada, seperti upacara Peodalan, pawai obor, resepsi upacara Yadnya Kasada, serta sendratari Roro Anteng dan Joko Seger.

Peodalan sendiri adalah upacara yang dilakukan untuk menyucikan Pura Luhur Poten. Dilaksanakan sebelum Upacara Yadnya Kasada. Ritual Peodalan ini dilakukan secara adat Tengger. Karena dalam ajaran Hindu, diajarkan untuk mengembangkan sesuai tradisi atau budaya lokal. Hal ini dapat terlihat dari sesaji Tengger yang berupa hasil bumi yang dipersembahkan kepada leluhur.

Selain kegiatan – kegiatan tersebut, aktivitas lain adalah mempersiapkan ongkek atau sesajian yang berupa hasil bumi Tengger. Ongkek – ongkek inilah yang nantinya akan dilarung atau dilemparkan ke kawah Gunung Bromo, yang selain sebagai ucapan syukur tentunya dengan harapan kemakmuran dan keselamatan bagi seluruh umat. Konon, hal ini dilakukan atas pengorbanan  dari Roro Anteng dan Joko Seger yang telah berjanji akan mengorbankan putera bungsu mereka Raden Kusuma, ke kawah Bromo, bila yang maha kuasa, menganugerahkan keturunan.

Bersama Pak Sutar, saya berkesempatan diajak untuk ikut langsung mengambil Jagung Putih untuk persembahan Ongkek, salah satu hasil bumi masyarakat Tengger di ladang. Ladang ini memang gersang. Semenjak erupsi yang menimpa Tengger beberapa waktu yang lalu. Namun hal ini tidak membuat masyarakat patah arang. Mereka malah menjadikan kejadian ini sebagai ujian yang mereka yakin dapat mereka lewati. Bahkan menurut mereka, kondisi tanah berpasir, tetap membuat tanaman tumbuh cukup baik.

Akses menuju ladang memang cukup menanjak dan berbelok – belok serta cukup jauh. Namun sepanjang saya melintasi jalan berbatu ini, saya melihat banyak sekali petani yang berjalan sambil membawa hasil ladang. Ternyata memang mayoritas masyarakat berjalan kaki untuk menuju ladang.

Hasil bumi yang ditata ke dalam ongkek itu terlebih dahulu disucikan dengan mantera oleh Dukun. Setelah ongkek disucikan, selanjutnya ongkek akan dibawa menuju Pura Luhur Poten. Di tempat inilah, ongkek kembali disucikan untuk kemudian tepat pukul 03.00 dini hari tanggal 15 Agustus, ongkek – ongkek akan dibawa menuju kawah gunung Bromo.

Pada saat ongkek disucikan, ada beberapa sajian yang mendampingi ongkek – ongkek tersebut. Sesajian pertama berisi antara lain : tumpeng raka, jenang merah, jenang putih, sega golong, pisang emas, gedang ayu (diyakini sebagai tempat duduk leluhur, berisi : rokok daun jagung, koin piciseta, pisang emas muda dan pinang), serta telur ayam jawa. Sesajian berikutnya berisi : pisang matang, kelapa, gula, dan beras. Sesajian inilah yang harus ada pada saat ongkek disucikan.

Kurang lebih pukul 20.00 malam, di Balai Desa setempat diadakan resepsi untuk menyambut Upacara Yadnya Kasada yang akan diselenggarakan pada dini hari nanti. Suasana cukup meriah, karena hampir semua masyarakat ikut serta meramaikan acara. Hampir sama dengan suasana pasar malam, karena banyak pedagang yang memenuhi sisi – sisi lokasi acara. Dan tentunya banyak pula jajanan yang tidak saya sia-siakan.

Akhirnya dini hari pun tiba. Saya mulai mengikuti iring-iringan masyarakat menuju Pura Luhur Poten. Udara dingin yang menusuk membuat saya harus men-dobel-kan syal yang saya pakai. Di Pura Luhur Poten pun sudah disiapkan beberapa agenda ritual. Diantaranya penyucian ongkek dan pelantikan dukun – dukun baru.

Ya, memang dukun memegang peranan penting bagi masyarakat Tengger. Karena para dukun inilah yang akan memimpin ritual – ritual atau hajatan masyarakat. Untuk dapat menjadi seorang dukun cukup melewati tahapan yang panjang. Dan tentu saja hapal mantera menjadi satu syarat penting bagi mereka. Masa bakti seorang dukun adalah semampunya. Artinya selama yang bersangkutan masih merasa mampu secara jiwa raga memimpin ritual-ritual tersebut, maka beliau masih dapat menjadi dukun.

Sekitar pukul 03,30 dini hari iring-iringan mulai bergerak menuju kawah gunung Bromo. Udara kian dingin. Namun hal itu tak meredusir semangat seluruh masyarakat untuk menuju momen puncak pada perayaan Upacara Yadnya Kasada. Jarak tempuh sekitar 1 Km untuk mencapai tangga menuju kawah, dengan kondisi lautan pasir yang cukup terjal menjadi satu tantangan tersendiri. Surya pun belum lagi menunjukkan sinarnya. Kami masih berjalan dalam kegelapan. Hal ini sengaja dilakukan, agar ketika kami mencapai puncak kawah, tepat seiring mentari bersinar.

Akhirnya, tepat ketika fajar mulai menyingsing, saya pun tiba di puncak kawah Gunung Bromo. Disana sudah ramai warga dan pengunjung yang memang ingin turut menyaksikan secara langsung proses pelarungan. Dan benar saja, akhirnya saya bisa menyaksikan langsung proses pelarungan. Termasuk melihat dengan mata kepala sendiri, banyak orang – orang yang menanti ddari bawah kawah, sesajian yang dilemparkan kesana. Jala menjadi alat bantu mereka untuk menangkap barang – barang yang dilemparkan dari puncak kawah.

Pelarungan tidak selesai sampai disitu saja. Setelah ongkek – ongkek yang dilarung tepat ketika mentari mulai menyembul, masyarakat akan melanjutkan melemparkan aneka sesaji secara pribadi. Mereka akan naik ke kawah kembali membawa serta keluarga untuk melemparkan segala jenis persembahan.

Akhirnya ritual pelarungan ongkek – ongkek pun selesai. Saya bersama tim bergegas turun kembali. Untungnya ada akses lain untuk menuruni kawah selain tangga yang cukup curam dan berpasir tebal itu. Saya mencoba turun melalui gundukan pasir tebal dengan cara merosotkan kaki. Hehee… Seru.

Lega bercampur bangga. Perasaan itu bercampur aduk ketika saya menginjakkan kaki kembali di lautan pasir. Lega karena akhirnya saya mampu melewati medan yang cukup terjal untuk dilalui. Bangga karena saya dapat menyaksikan secara langsung, ritual adat masyarakat Tengger di Bromo.

 

Special thanks to :

– Mas Bobby Kurniawan

– Mas Arif Juanda

Advertisements
Comments
  1. helvy says:

    keren bangeet *good job* ,, makasi mbak winny,, info & foto2ny sangat membantu skripsi saya.!! 🙂

  2. Yose says:

    Sabtu lalu saya habis balik dari Bromo, tapi nggak liat sunrise yang bagus, karena mendung 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s