SELERA ASAL #BROMO #UPACARA PUDJAN

Posted: August 23, 2011 in SELERA ASAL

Kasada memang menjadi salah satu moment yang istimewa bagi masyarakat Tengger. Masyarakat menjalani tahapan demi tahapan ritual tersebut dengan penuh khidmat dan rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi. Temperatur dingin namun kering, tak juga menurunkan antusias dalam ephoria yang ada. Tidak hanya masyarakat setempat. Para pengunjung pun begitu dimanjakan oleh keeksotikan alam Bromo.

Upacara Yadnya Kasada tak hanya selesai sampai pelarungan ongkek dan sesajian saja. Masih ada ritual yang harus dilakukan. Namanya adalah Upacara Pudjan. Upacara ini memang bukan hanya dilaksanakan sebagai “babak pamungkas” Kasada. Pudjan dilakukan sebagai prosesi penutup oleh masing – masing desa. Ritual ini bertujuan untuk mengucap syukur atas keselamatan yang telah diberikan saat ini dan di masa yang akan datang.

Tradisi turun temurun peninggalan leluhur ini memang sangat mengedapankan gotong royong. Hal ini terlihat dari masing – masing rumah yang sibuk menyiapkan penganan – penganan untuk selanjutnya diserahkan ke rumah Pak Tinggi / Lurah yang menjabat. Nantinya, penganan – penganan ini akan dibagi – bagikan ke seluruh warga desa. Ada berbagai penganan yang disiapkan warga. Antara lain : pisang goreng, donat, kue tetel, juadah, kue pasung, bolu kukus, serta gedang atau pisang. Tradisi mengantarkan penganan tersebut dinamakan Antar Turun.

Selain penganan antaran warga, di rumah Pak Tinggi juga disibukkan dengan proses menyiapkan sesajian. Yang termasuk sesajian pudjan inti adalah :

  • Sega golong
  • Jenang merah putih
  • Gedang Ayu (tempat duduk leluhur yang terdiri dari rokok daun jagung, koin piciseta, pisang emas muda dan pinang)

Selain sesajian inti, ada pula sesajian pelengkap, antara lain :

  • Tumpeng mata angin (disimbolkan dengan warna – warni tumpeng)
  • Serabi mata angin
  • Arang – arang kambang

Hal ini bertujuan untuk mengharapkan kelancaran dalam melakukan segala pekerjaan.

Kue Pasung. Saya cukup tergelitik mendengar nama kue tersebut. Melihat bentuknya saja, saya dapat menerjemahkan rasa yang dimiliki oleh salah satu resep leluhur tersebut. Berbekal keingintahuan, saya memberanikan diri untuk belajar membuat kue pasung.

Beruntungnya saya, Ibu Mistin bersedia mengajarkan saya membuat kue pasung, yang sedianya akan menjadi salah satu penganan untuk antar turun. Bahan – bahan yang digunakan untuk membuat kue pasung antara lain :

  • Kelapa parut
  • Tepung beras
  • Gula, serta
  • Air

Tahapan membuat kue berbentuk kerucut ini mudah saja. Tepung beras dicampur dengan air, lalu diberi pengembang kue secukupnya. Pengembang kue berfungsi untuk membuat adonan naik pada saat dikukus. Selanjutnya adonan didiamkan kurang lebih 1 jam. Setelah cukup mengembang, adonan diberi gula pasir secukupnya hingga rasa manis keluar, dan sebagai tahapan akhir, adonan dimasukkan kelapa parut.

Kebetulan, Ibu Mistin akan membuat 2 jenis warna kue pasung. Maka jadilah adonan kami bagi dua. Adonan yang satu diberi pewarna kue. Sementara yang satu cukup dibiarkan berwarna putih. Untuk pembungkusnya, Ibu Mistin mengajarkan saya cara membuat kerucut dari daun pisang yang direkatkan menggunakan lidi kecil. Setelah semua pembungkus jadi, kami memasukkan pembungkus daun pisang tersebut ke dalam kukusan yang sudah dibuat sedemikian rupa membentuk bulatan – bulatan kecil berukuran sama dengan pembungkus daun yang kami buat. Setelah daun pisang ditancapkan ke dalam kukusan, saatnya mengisi dengan adonan yang telah siap. Saya mengisi bungkusan demi bungkusan sehingga semua terisi adonan berwarna merah muda dan putih. Hmmm… Belum matang saja, aromanya begitu semarak memenuhi dapur kecil Bu Mistin. Sudah terbayang hasilnya seperti apa.

Kurang lebih 15 menit waktu yang dibutuhkan agar kue pasung matang dan mengembang sempurna. Dan benar saja, ketika tutup kukusan dibuka, tampak warna – warna cantik dipadu dengan hijau daun yang membungkus kue pasung. Saya tak membuang waktu untuk mencicipnya. Wooww!!! Lezaaattt sekali. Kue ini begitu lembut dan menyatu dengan lidah. Harum daun pisang seolah ikut membuat “perkenalan” saya dengan kue pasung terasa benar – benar istimewa.

Kue pasung selesai dimasak. Saatnya saya membantu ibu menyiapkan antaran, dan menuju ke rumah Pak Tinggi. Malam segera menjelang. Saatnya bersiap mengikuti ritual Pudjan.

Malam hari pun tiba. Dan ritual pun dimulai. Pak Dukun Joko memimpin upacara tersebut dengan penuh khidmat. Didampingi oleh Pak Tinggi serta perangkat desa lainnya.

Suatu kearifan lokal yang terus dipertahankan oleh masyarakat Tengger.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s